Tolitoli, MonitorNasional – Mantan Anggota DPRD Kabupaten Tolitoli, Moh. Mubarak ikut menyoroti proyek perbaikan irigasi binontoan desa Gio kabupaten tolitoli Sulteng.
Alih alih Proyek yang di garap BWS III sulteng itu dinilai tidak tepat sasaran.
Menurut Moh Mubarak.SH salah satu mantan anggota DPRD kabupaten tolitoli dari Partai Amanat nasional (PAN) periode 2019-2024 mengatakan, dalam perjalanannya ke desa gio dan desa binontoan Kecamatan Tolitoli Utara, Kabupaten Tolitoli, ia menemukan sedikitnya ada tiga titik kerusakan parah pada saluran sekunder. Kerusakan tersebut membuat sekitar 300 petak sawah di Desa Giok tidak dapat dialiri air selama tiga musim tanam terakhir.
Kepada Media ini Mubarak mengaku kaget saat mengetahui kondisi di lapangan. Ia menyebut sebelumnya telah mendengar informasi bahwa irigasi Binontoan sudah masuk dalam daftar usulan perbaikan dan mendapatkan alokasi anggaran sekitar kurang lebih 2 miliar rupiah untuk tahun anggaran 2025, tandas Mantan Angleg dan Politisi PAN menirukan Pernyataan Ansar salah satu warga Desa Gio yang ikut resah akibat sawah miliknya tak dapat diolah.
“Kalau melihat kondisi persawahan warga Desa Binontoan dan Desa Giok wilayah Tolitoli saat ini, belum dapat menjawab persoalan keresahan warga Desa terutama menyangkut irigasi yang tidak berfungsi.
“Padahal jauh sebelumnya warga desa sudah mendapatkan informasinya bahwa anggaran perbaikan sudah dialokasikan sebesar 2 miliar dan akan dikerjakan pada tahun 2025 lalu,” ujar Mubarak dengan nada kecewa, minggu (15/2/2025).
Hal senada diungkapkan Ashar salah seorang warga tani dari Desa Binontoan, saat mengungkapkan keresahan warga desa.
Ia mengatakan, “jika kondisi ini terus dibiarkan, maka ancaman krisis pangan di tingkat desa bukan hal yang mustahil terjadi. “Sudah tiga kali musim panen kami tidak bisa menanam. Sawah hanya jadi lahan rumput, dan warga pun terancam kelaparan,” keluh Asnar.
Menurut Asnar, petani tidak menuntut perbaikan permanen. Namun minimal dalam waktu dekat bisa ada penanganan serius yang dapat membantu dan menyelamatkan keresahan warga Tani. Mereka hanya meminta penanganan darurat di tiga titik yang rusak parah rusak agar air bisa kembali mengalir ke lahan persawahan, keluhnya.
“Bila dilihat dari kejadian di dua Desa di wilayah Tolitoli Utara soal keresahan warga akibat tak dapat mengelola Sawah, bisa menjadi fotret buram soal ketidak seriusan pemerintah dalam memberdayakan kaum Tani.
Padahal hampir setiap saat menteri Pertanian Amran Sulaiman dan maupun presiden Prabowo Subianto selalu kampanyekan terkait prioritas Petani Indonesia menuju Swasembada Pangan.
Hingga berita ini diturunkan pihak Balai Wilayah Sungai (BWS-III belum bisa dikonfirmasi. * (Sopan)





